
Tim Penelitian Fundamentar Reguler (PFR) dari prodi Desain Komunikasi Visual, Universitas Indraprasta, kembali melanjutkan risetnya tentang model media promosi wisata berbasis website virtual tour untuk Kawasan Maimun Medan di Sumatera Utara. Penelitian ini merupakan riset lanjutan tahun kedua untuk penelitian multi tahun yang memperoleh pembiayaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (DPPM DIKTISAINTEK), serta mendapat dukungan fasilitasi dari Lembaga Riset Pengabdian kepada Masyarakat (LRPM) Universitas Indraprasta PGRI.
Pada tahun 2025, Tim PFR telah berhasil menyelesaikan pemotretan untuk empat destinasi wisata yang ada di Kawasan Maimun, yaitu: Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun Maimun, Tjong A. Fie Mansion, dan Taman Sri Deli. Keempat ikon wisata cagar budaya ini telah dimasukkan ke dalam situs virtualmaimun.com yang pemrogaman komputernya telah didaftarkan HKI oleh tim peneliti. Tim PFR juga berhasil memplubikasikan hasil risetnya di Jurnal Internasional Humanities, Arts and Social Sciences Studies (HASSS), terindeks Scopus Q2, dengan judul “Concepting virtual tour using panoramic photography as tourism promotional media for the Maimun area, Indonesia” pada edisi Januari-April 2026.
Tahun 2026, Tim PFR melanjutkan risetnya ke empat kawasan bersejarah lainnya, yaitu: Menara Air Tirtanadi, Gedung Juang’45, pusat perdagangan Pasar Merah, dan Taman Ahmad Yani. Kawasan Maimun memang dikenal sebagai kawasan bersejarah yang bernilai budaya tinggi. Sesuai dengan surat keputusan Wali Kota Medan Nomor: 433/29.K/2022, kawasan ini dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, mengembangkan pembangunan infrastruktur, dan pariwisata skala internasional. Oleh karena itu, Tim PFR berpartisipasi untuk ikut memberikan solusi inovatif berupa desain model promosi wisata cagar budaya yang berbasis teknologi Virtual Reality dan multimedia grafis, yaitu Website Virtual Tour.
Observasi lanjutan yang dilaksanakan akhir Agustus 2026 ini pertama mengunjungi Menara Air Tirtanadi yang terletak di Jalan Sisingamangaraja. Menara air setinggi 42 meter dengan berat 330 ton ini didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1908 melalui perusahaan NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih. Menara air menggunakan sistem distribusi gravitasi murni yang memanfaatkan kemiringan kontur tanah alami, hasil rancangan arsitek Belanda. Awalnya berfungsi sebagai penampung dan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kaum elit Eropa, kantor pemerintah, rumah sakit, serta masyarakat golongan menengah ke atas, namun setelah kemerdekaan, sesuai peraturan Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara No.11 tahun 1979 kini berada di bawah naungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi.
Kunjungan kedua adalah Gedung Juang’45 di Jalan Pemuda. Bangunan ini merupakan salah satu monumen nasional karena berdiri di atas situs bersejarah dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Situs aslinya merupakan bangunan rumah panggung. Pada tahun periode 1943-1945, bangunan ini menjadi markas pemuda pejuang bentukan Jepang Bernama BOMPA (Badan Oentuk Membantu Perang Asia) dan pada tahun 1945, menjadi poros penting pergerakan pemuda pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, kunjungan ketiga Tim Riset mengitari area pusat perdagangan Pasar Merah yang meliputi Jalan H.M. Joni, Jalan Gedung Arca, dan Jalan Megawati. Kawasan ini menjadi salah satu urat nadi perekonomian dan pilar perniagaan tradisional, sehingga ditetapkan sebagai pusat perdagangan utama di kota Medan. Disebut Pasar Merah karena secara historis terkenal dengan kualitas tanah merahnya, serta adanya pabrik batu bata dan genteng pertama di tahun 1881 bernama NV Deli Klei. Oleh karena itu, di area ini, masih terdapat sisa bangunan cerobong asap setinggi kurang lebih 26 meter yang dulunya dipakai untuk proses sirkulasi udara panas untuk pembakaran batu bata.
Pada kunjungan keempat, Tim Riset mendatangi sebuah situs berupa taman yang dinaungi pohon-pohon tua, dan adanya monumen bersejarah. Taman Ahmad Yani yang terletak di Jalan Imam Bonjol memiliki luas sekitar dua hektar. Keberadaan monumen patung pahlawan Jendral Ahmad Yani setinggi 11 meter ini dibuat oleh Ki Heru selama tahun 1965-1968, posisinya berdiri tegak di tengah taman dengan kepala menoleh ke kiri dan tangan kanan menunjuk ke arah kiri. Taman ini diresmikan pada tanggal 26 November 2008 sebagai taman kota oleh Walikota Medan, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk berolahraga.
Selama proses pelaksanaan riset tahun kedua tersebut, Tim PFR juga bertemu dengan sejumlah narasumber untuk melengkapi data penelitian tentang substansi media promosi wisata berbasis website virtual tour, yaitu Muhammad Arief Ismirianda selaku Konsultan dan Program Developer, Utari Nurhayati selaku Manajer Marketing dan Promosi dari Indonesia Science Centre, TMII, Ibrahim Yusuf selaku Supervisor Peragaan dan Kepemanduan Indonesia Science Centre, TMII, Mico Ramadhani, selaku Guest Relation Officer Virtual Immersive Park, Jatim Park 2, Mhd. Rizki Oriza NST selaku staf dari Perumda Tirtanadi, dan Budi Insani, SH. MH daro Sekretariat Gedung Juang’45.
Tahun 2026, Tim PFR melanjutkan risetnya ke empat kawasan bersejarah lainnya, yaitu: Menara Air Tirtanadi, Gedung Juang’45, pusat perdagangan Pasar Merah, dan Taman Ahmad Yani. Kawasan Maimun memang dikenal sebagai kawasan bersejarah yang bernilai budaya tinggi. Sesuai dengan surat keputusan Wali Kota Medan Nomor: 433/29.K/2022, kawasan ini dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, mengembangkan pembangunan infrastruktur, dan pariwisata skala internasional. Oleh karena itu, Tim PFR berpartisipasi untuk ikut memberikan solusi inovatif berupa desain model promosi wisata cagar budaya yang berbasis teknologi Virtual Reality dan multimedia grafis, yaitu Website Virtual Tour.
Observasi lanjutan yang dilaksanakan akhir Agustus 2026 ini pertama mengunjungi Menara Air Tirtanadi yang terletak di Jalan Sisingamangaraja. Menara air setinggi 42 meter dengan berat 330 ton ini didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1908 melalui perusahaan NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih. Menara air menggunakan sistem distribusi gravitasi murni yang memanfaatkan kemiringan kontur tanah alami, hasil rancangan arsitek Belanda. Awalnya berfungsi sebagai penampung dan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kaum elit Eropa, kantor pemerintah, rumah sakit, serta masyarakat golongan menengah ke atas, namun setelah kemerdekaan, sesuai peraturan Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara No.11 tahun 1979 kini berada di bawah naungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi.
Kunjungan kedua adalah Gedung Juang’45 di Jalan Pemuda. Bangunan ini merupakan salah satu monumen nasional karena berdiri di atas situs bersejarah dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Situs aslinya merupakan bangunan rumah panggung. Pada tahun periode 1943-1945, bangunan ini menjadi markas pemuda pejuang bentukan Jepang Bernama BOMPA (Badan Oentuk Membantu Perang Asia) dan pada tahun 1945, menjadi poros penting pergerakan pemuda pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, kunjungan ketiga Tim Riset mengitari area pusat perdagangan Pasar Merah yang meliputi Jalan H.M. Joni, Jalan Gedung Arca, dan Jalan Megawati. Kawasan ini menjadi salah satu urat nadi perekonomian dan pilar perniagaan tradisional, sehingga ditetapkan sebagai pusat perdagangan utama di kota Medan. Disebut Pasar Merah karena secara historis terkenal dengan kualitas tanah merahnya, serta adanya pabrik batu bata dan genteng pertama di tahun 1881 bernama NV Deli Klei. Oleh karena itu, di area ini, masih terdapat sisa bangunan cerobong asap setinggi kurang lebih 26 meter yang dulunya dipakai untuk proses sirkulasi udara panas untuk pembakaran batu bata.
Pada kunjungan keempat, Tim Riset mendatangi sebuah situs berupa taman yang dinaungi pohon-pohon tua, dan adanya monumen bersejarah. Taman Ahmad Yani yang terletak di Jalan Imam Bonjol memiliki luas sekitar dua hektar. Keberadaan monumen patung pahlawan Jendral Ahmad Yani setinggi 11 meter ini dibuat oleh Ki Heru selama tahun 1965-1968, posisinya berdiri tegak di tengah taman dengan kepala menoleh ke kiri dan tangan kanan menunjuk ke arah kiri. Taman ini diresmikan pada tanggal 26 November 2008 sebagai taman kota oleh Walikota Medan, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk berolahraga.
Selama proses pelaksanaan riset tahun kedua tersebut, Tim PFR juga bertemu dengan sejumlah narasumber untuk melengkapi data penelitian tentang substansi media promosi wisata berbasis website virtual tour, yaitu Muhammad Arief Ismirianda selaku Konsultan dan Program Developer, Utari Nurhayati selaku Manajer Marketing dan Promosi dari Indonesia Science Centre, TMII, Ibrahim Yusuf selaku Supervisor Peragaan dan Kepemanduan Indonesia Science Centre, TMII, Mico Ramadhani, selaku Guest Relation Officer Virtual Immersive Park, Jatim Park 2, Mhd. Rizki Oriza NST selaku staf dari Perumda Tirtanadi, dan Budi Insani, SH. MH daro Sekretariat Gedung Juang’45.

Komentar Terbaru